Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Pertahanan Siber di Era Perang Modern

Indonesia kini telah masuk kategori sebagai salah satu negara dengan pengguna internet terbesar keempat di dunia. Hal ini menjadi kesempatan bagus sekaligus ancaman besar dalam dunia teknologi, karenanya memperkuat pertahanan siber harus segera dilakukan.

Apa itu Pertahanan Siber di Era Perang Modern?

Pertahanan siber adalah sebuah upaya untuk mencegah serangan data internet yang menyebabkan terganggunya ketahanan negara. Sedangkan perang modern maksudnya yaitu, sebuah penyerangan melalui teknologi sehingga dapat merugikan bahkan menghancurkan targetnya.

Ketahanan negara kini lebih rawan diserang melalui teknologi, terutama Indonesia kini menjadi salah satu pengguna internet terbanyak. Perusahaan konsultan McKinsey mengatakan bahwa, Indonesia sangat berpotensi menumbuhkan ekonominya hingga mencapai US$150 miliar pada tahun 2025.

Penelitian lain juga menunjukan bahwa ekonomi tahunan Indonesia dapat meningkat hingga 2% berkat teknologi digital, terutama pada pertumbuhan UKM. Namun potensi besar tersebut mendapat banyak ancaman, pada tahun 2018 saja sudah ditemukan 200 juta siber di negara ini.

Langkah Memperkuat Pertahanan Siber bagi Negara

Dalam menghadapi serangan-serangan seperti ini, pemerintah sudah meresmikan beberapa peraturan serta telah membentuk lembaga khusus di Kementerian Pertahanan dan Kepolisian. Selain itu, sejumlah hukum yang lebih kuat juga sudah dibentuk. Berikut langkah langkah antisipasinya:

1. Mengenali Jenis Ancaman

Langkah pertama untuk memperkuat pertahanan siber ini, yaitu mengenali jenis ancaman yang sekiranya dapat menyerang. Sebelumnya Indonesia masih kurang dalam pencegahan siber sehingga dalam satu minggu 1.35 juta web pernah diserang.

Kebanyakan penyerangan ini mengarah pada lembaga pemerintahan seperti KPU, KPAI, ICMI dan beberapa dewan penasihat. Dari pengalaman ini, Indonesia sudah harus mengenali jenis ancaman tersebut sehingga dapat membuat antisipasi yang lebih kuat.

2. Mempertebal Hukum

Serangan dari banyak siber menandakan bahwa ketahanan hukum belum memadai, terlebih lagi sampai menyerang website lembaga pemerintah. Undangan-undang yang berlaku hanyalah UU ITE dan PP PSTE, hanya mengatur tentang penyelenggaran dan informasi elektronik saja.

Pemerintah seharusnya mengesahkan rancangan undang-undang (RUU) mengenai keamanan siber di DPR, sebagai penutup celah yang selama ini membuka kesempatan para penjahat teknologi. Serangan biasanya dilakukan oleh teroris atau beberapa negara asing musuh negara Indonesia.

3. Berkoordinasi Antar Lembaga

Kementerian pertahanan dan Kepolisian adalah dua lembaga pemerintah menjaga sistem keamanan siber di Indonesia. Kemudian didirikanlah Pusat Pertahanan Siber (Pushansiber), sebagai badan penyelidik khusus sehingga ancaman-ancaman dapat lebih diantisipasi.

Tidak hanya itu, pada tahun 2017 pemerintah Indonesia juga membentuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sebagai pemimpin koordinasi dari berbagai institusi. Sejauh ini koordinasi antar lembaga sudah cukup terkendali sehingga pertahanan siber dapat menjadi lebih kuat.

4. Mengembangkan Infrastruktur Digital

Pembangunan sistem keamanan siber yang mumpuni, tentu harus didukung oleh peran pemerintah dalam mengembangkan infrastruktur digital. Indonesia masih ada di tahap awal pengembangan tersebut, sampai saat ini hal tersebut masih belum rampung.

Di samping itu, perkembangan teknologi seperti Internet of Things (IoT), mesin ke mesin (M2M), dan komputasi awan terus menerus memperbesar resiko terserangnya data oleh para siber. Pembangunan sistem pertahanannya masih kalah cepat dengan pertumbuhan baru dalam digital.

5. Mengembangkan Industri

Langkah terakhir yaitu mengembangkan industri keamanan siber lokal, pemerintah tentu harus mempercepat tahapan ini agar tidak cepat oleh para pembobol data. Sampai sekarang, pasar hardware dan software masih didominasi oleh negara asing sehingga rawan terkena retasan.

BSSN harus gencar melakukan koordinasi dengan berbagai lembaga, untuk membuat konsep pengembangan industri. Karena hanya lembaga konsultasi lokal yang tumbuh dengan baik sampai menyediakan layanan, seperti keamanan digital dan forensik bagi warga negaranya.

Lemahnya Pertahanan Siber Indonesia

Indonesia menjadi salah satu negara yang selalu kalah saat perang modern yaitu pertempuran teknologi digital. Bahkan pada tahun 2007-2009, serangan spionase dialami negara ini hingga telepon seluler mantan presiden SBY dan istrinya diduga berhasil diretas oleh Australia.

Tidak hanya sampai disana, serangan besar berikutnya terjadi pada tahun 2017, setidaknya 200 ribu komputer yang tersebar di 150 negara menuntut uang tebusan. Indonesia menjadi salah satunya, penyerangan tersebut dikenal dengan ransomware WannaCry.

Beberapa negara pun sudah melakukan diplomasi siber, pembahasannya mengenai bagaimana pencegahan dan pengawasannya. Sehingga terbentuklah Id-SIRTII/CC (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure/Coordination Center) khusus untuk Indonesia.

Memperkuat pertahanan siber memang sangat penting dan perlu perhatian khusus dari pemerintah, karena potensi kerugian yang didapat biasanya dalam jumlah besar. Lakukan proteksi lebih untuk website Anda jika dirasa sangat penting dengan meminta bantuan lembaga terkait.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Tidak Kalah Menarik