Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Jejak Militer Indonesia dalam Operasi Pembebasan Sandera

JAKARTA – Tentara Nasional Indonesia merupakan salah satu angkatan bersenjata yang cukup disegani dunia. Beberapa kali TNI menunjukkan kekuatan dan kemampuannya untuk menyelamatkan warga negara RI termasuk dalam pembebasan sandera di Papua, Don Mueang dan Somalia.

Operasi Pembebasan di Papua

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menyandera 334 warga desa Binti dan Kimbley, Kec. Tembagapura, Kab, Mimika, Papua. Mabes Polri menyebutkan bahwa anggota kelompok tersebut berjumlah 20 hingga 25 orang.

Polri dan TNI akhirnya menurunkan Satgas Terpadu dengan menggunakan cara persuasif untuk meminimalisir adanya korban. Sebanyak 13 personel Kopassus, 10 anggota Kostrad dan 63 prajurit Angkatan darat kemudian mengintai lokasi penyekapan dan memantau pergerakan KKB.

Pangdam Cenderawasih memberi petunjuk untuk tidak melakukan tindakan jika Kelompok penyandera masih membaur dengan warga sehingga operasi tertunda beberapa kali.

Akhirnya, setelah 5 hari mengintai sejumlah pentolan KKB bergerak menuju pos-pos yang telah mereka bangun di wilayah ketinggian. Pada jumat 17 November 2017 itulah pasukan TNI menyerbu kampung Kimbel dan Banti .

Upaya operasi pembebasan sandera di Papua ini penuh resiko karena KKB terus menghujani aparat dengan tembakan jarak jauh. Meskipun begitu, tidak ada TNI AD yang menjadi korban bahkan telah berhasil mengevakuasi 334 warga sipil dengan selamat.

Operasi Pembebasan di Don Mueang

Pada tanggal 28 maret 1981 kelompok yang menamakan diri sebagai Komando Jihad membajak pesawat DC “Woyla” milik Garuda Indonesia. Transportasi udara tersebut memuat 48 penumpang dan 5 awak dan hendak terbang melalui rute Jakarta – Medan.

Ternyata ada percobaan aksi pembajakan pesawat oleh dua penumpang. Salah satunya ada di kabin untuk menyandera 48 orang serta 3 kru kabin dengan pistol revolver. Sedangkan yang lainnya menuju kokpit dan meminta pilot untuk menerbangkan ‘Woyla’ menuju Kolombo, Sri Lanka.

  1. Sempat Transit di Malaysia

Sang kapten pilot, Herman Rante tentu tidak bisa memenuhi permintaan tersebut karena keterbatasan bahan bakar avtur. Pada akhirnya, membuat pesawat justru menuju Malaysia untuk mengisi ulang bahan bakar tanpa memberitahu tujuan berikutnya.

Saat berada di Malaysia para penyandera membacakan tuntutan untuk membebaskan tahanan yang terlibat dalam penyerangan Kosekta 8606 Pasirkaliki di Bandung. Mereka juga meminta tebusan uang sejumlah 1,5 juta dolar AS.

Selain itu pembajak tersebut hanya menurunkan penumpang bernama Hulda Panjaitan berusia 76 tahun. Kemudian pesawat Woyla terbang menuju Bangkok.

Kabar mengenai penyanderaan sampai ke Jakarta sehingga pemerintah memerintahkan Kopassandha untuk segera menggelar operasi pembebasan. Setelah berlatih selama 2 hari, pasukan tersebut sampai ke Thailand dan membagi tim menjadi tiga yaitu Merah, Biru dan Hijau.

  1. Berhasil Meringkus Penyandera di Don Mueang

Akhirnya puncak peristiwa penyanderaan selama 4 hari ini terjadi pada 31 maret 1981 saat pesawat transit di bandara Don Mueang, Bangkok.

Pukul 02.30 dini hari prajurit Kopassandha mulai bergerak mendekati ‘Woyla’. Tim merah dan biru memanjat ke dua sisi sayap sedangkan pasukan hijau masuk melalui pintu belakang.

Akhirnya setelah baku tembak dengan para pembajak militer Indonesia berhasil membebaskan para sandera. Dalam operasi pembebasan ini kedua teroris tewas. Selain itu Letnan Achmad Kirang dan Kapten Pilot Herman Rante meninggal sementara seluruh penumpang berhasil selamat.

Operasi Pembebasan di Somalia

Pada 16 maret 2011 perompak Somalia menyandera 20 awak kapal MV Sinar Kudus yang membawa bijih nikel. Mereka meminta pemilik kapal untuk menyiapkan uang tebusan.

Saat mendengar kabar tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) segera memberi perintah untuk menyiapkan operasi militer pembebasan sandera. Setelah merangkai persiapan terpadu, akhirnya tim pasukan khusus gabungan Marinir, Kopasus, Kostrad dan Kopassus berangkat pada 23 maret 2011.

Hasil dari pemantauan udara menunjukkan bahwa KM Sinar Kudus berada di antara 8 kapal pembajak yang terorganisir dengan 15-20 kelompok lain di sekelilingnya. Setelah beberapa kali negosiasi mengenai penebusan, SBY memberi perintah untuk menyelamatkan sandera

Kemudian lanjut operasi militer mengejar perompak. Akhirnya pimpinan tim mengirimkan helikopter lengkap dengan GPNG serta para sniper di sebelah kanan dan kirinya menuju lokasi Sinar Kudus.

Pasukan segera turun untuk menyerbu kapal hingga semua perompak tewas dan KM Sinar Kudus berhasil selamat tiba di lokasi tujuan yaitu Oman pada 4 Mei 2011.

Demikian jejak militer Indonesia dalam operasi pembebasan sandera di Papua, Don Mueang dan Somalia. Semoga menambah wawasan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Tidak Kalah Menarik