Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Profil dan Sejarah Paskhas, Pasukan Elit Milik TNI AU

Korpaskhas AU singkatan dari Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Paskhas adalah satuan tempur yang memiliki kemampuan tiga matra, yaitu darat, laut ,dan udara. Pasukan ini identik dengan baretnya yang berwarna jingga.

Paskhas memiliki tugas utama sebagai penjaga pangkalan udara, menangani pembajakan udara, dan membebaskan sandera dalam pesawat, serta memiliki kemampuan untuk menguasai pangkalan udara lawan dan mengoperasikannya.

Sejarah paskhas berawal dari gubernur Kalimantan Selatan yang bernama Ir. Pangeran Muhammad Noor yang mengajukan permintaan kepada AURI agar mengirimkan pasukan payung ke Kalimantan guna membantu perjuangan rakyat di Kalimantan melawan pasukan Belanda, kemudian Laksamana Udara TNI Surjadi Suryadarma memilih 13 putera asli Kalimantan untuk melakukan penerjunan dari pesawat C-4 7 Dakota berkode RI-002 yang dikemudikan oleh captain asal Amerika Serikat, Bob Freeberg, Kopilot Suhodo dan Pengawas Penerjunan Amir Hamzah.

17 Oktober 1947 pasukan ini berhasil diterjunkan di Sambi Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah. Setelah bergerilya di dalam hutan selama sebulan, akhirnya pada tanggal 23 november 1947 pasukan ini disergap oleh tentara Belanda akibat pengkhianatan seorang kepala desa setempat yang memberitahu posisi ke-13 prajurit tersebut. Tiga dari mereka gugur dalam pertempuran, sedangkan yang lainnya ditangkap. Beruntung pengadilan Belanda tidak dapat membuktikan bahwa mereka adalah anggota pasukan terjun payung, maka mereka dibebaskan setelah menjalani satu tahun hukuman penjara.

Setelah kembali, mereka langsung diangkat oleh Laksamana Suryadarma menjadi anggota AURI penerjunan. Tanggal 17 oktober 1947 yang dilakukan oleh ke-13 pemuda asli kalimantan tersebut menjadi operasi penerjunan yang pertama kalinya dalam sejarah Indonesia dan menjadi cikal bakal lahirnya satuan tempur Pasukan Khas TNI Angkatan Udara, serta menjadi hari jadi Komando Pasukan Gerak Cepat atau KOPASGAT.

Pada masa awal kemerdekaan, Badan Keamanan Rakyat Oedara atau BKRO membentuk organisasi darat untuk melindungi pangkalan-pangkalan udara milik Republik Indonesia dari serangan Belanda, kemudian terbentuklah P3 singkatan dari Pasukan Pertahanan Pangkalan.

Pada awal pembentukannya, P3 bersifat lokal dan hanya ada di beberapa pangkalan udara di Pulau Jawa, sedangkan diluar Pulau Jawa hanya ada di Palembang dan Padang, kemudian seiring dengan reorganisasi ABRI pada tahun 1984 hingga 1985, maka P3 dimantapkan oleh TNI Angkatan Udara dalam bentuk organisasi dan formatnya kini dengan nama KORPAKSKHASAU atau Paskhas.

Sepanjang sejarah, Paskhas sudah terlibat dalam berbagai operasi militer, diantaranya saat menumpas Republik Maluku Selatan, DI/ TII di Aceh dan Makasar, PRRI dan Permesta di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera, Operasi Trikora di Irian Barat, Operasi Dwikora di Malaysia, Operasi Seroja, Operasi Trisula dan Penumpasan PGRS di Kalimantan.

Selain itu, Paskhas juga aktif dalam operasi sipil serta tergabung dalam misi perdamaian di luar negeri di bawah bendera PBB, seperti Kontingen Garuda di Vietnam, Yugoslavia, Bosnia, Filipina, Lebanon dan negara-negara lain. Motto paskhas adalah Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana yang memiliki arti menunaikan tugas tanpa menghitung untung dan rugi.