Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Militer Myanmar Gencar Lakukan Serangan, Gerilyawan Tak Tinggal Diam

Pasca kudeta 1 Februari 2021, Junta Militer Myanmar perluas kekuasaan mereka dan mulai serangan militer udara di September 2021. Dilaporkan junta militer juga memutus akses internet di beberapa wilayah yang riskan gerilyawan. Negosiasi dan upaya penyelesaian konflik yang digagas para negara Asean tidak kunjung membuahkan hasil. Militer Myanmar semakin memantapkan diri mengambil alih kekuasaan di negara ini.

Junta Militer Myanmar Terus Menyerang Gerilyawan

Salah satu organisasi gerilya yang menentang Militer Myanmar adalah organisasi Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) Myanmar. Junta Militer melancarkan serangan udara di wilayah Pinlebu, Myanmar barat laut. Ledakan udara pertama dimulai pada Sabtu (25/9) dan diikuti terputusnya internet dan saluran telepon.

Selain PDF, Pemerintah Kesatuan Nasional (NUG) Myanmar yang terdiri dari para petinggi yang tersingkir dari pemerintah dan penentang junta telah mengamankan senjata Junta Militer usai serangan berlangsung. Senjata tersebut mulai dari senjata kecil, peluru, hingga granat berpeluncur roket.

Pertempuran udara pecah saat gerilyawan PDF dan NUG menyatakan perlawanan atas Junta Militer di wilayah Sagaing. Sebagai balasan, gerilyawan NUG juga sempat meledakkan menara telekomunikasi Mytel milik Junta Militer Myanmar.Media setempat tidak dampak meliput lebih lanjut dan meminta keterangan berapa korban yang jatuh atas insiden serangan udara karena juru bicara Junta Militer Myanmar memilih bungkam.

Ekonomi Myanmar Terguncang

Bank Sentral Myanmar tak berhasil pertahankan nilai kyat terhadap dolar AS. Dilansir dari beritasatu.com, pada Agustus 2021 Bank sentral Myanmar telah berupaya menambatkan kyat 0,8% terhadap dolar AS namun tak berhasil dan mentok di September 2021.

Gerai penukaran uang asing mulai gulung tikar dan hanya sedikit sisanya yang bertahan. Hal ini terjadi karena militer Myanmar menggulingkan pemerintahan sah yang dipimpin Aung San Suu Kyi pada 1 Februari. Gencatan senjata terus menerus menelan banyak kerusakan dan menyebabkan instabilitas ekonomi.

NUG meminta masyarakat Myanmar untuk tetap berjaga dan siaga menghadapi kemungkinan serangan lain dari Junta Militer. NUG bersama PDF mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dari keputusan mereka untuk melawan.

 

Tidak Kalah Menarik