Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Jendral Dudung Beberkan Kisah Hidupnya Dalam Buku Loper Koran Jadi Jenderal

JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jendral Dudung Abdurachman abadikan perjalan hidupnya kedalam sebuah buku setebal 316 halaman. Buku yang berjudul ‘Loper Koran Jadi Jenderal’ sengaja dibuat untuk memberikan motivasi bagi generasi yang akan datang.

Dalam buku tersebut menceritakan mulai dari Dudung keci yang kehidupannya dipenuhi dengan keprihatinan. Dudung menceritakan demi memenuhi kehidupan sehari-hari. Dudung rela menjadi tukang pengantar surat kabar atau loper koran dan kue klepon untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sembari melanjutkan sekolah demi masuk Akademi Militer (Akmil).

Dengan penuhi keprihatinan tidak membuat dirinya surut untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang prajurit TNI. “Dalam buku ini disampaikan juga cerita yang sebenarnya bahwa sepeninggal orangtua, yaitu bapak saat umur 12 tahun, kemudian keluarga ada 8 orang, saya anak nomor 6. Dan bapak waktu itu dinasnya sebagai PNS golongan rendah, sehingga setelah bapak saya meninggal, maka kehidupan ekonomi keluarga kita memang sangat kekurangan,” ucap Jenderal Dudung Abdurachman saat peluncuran buku ‘Loper Koran Jadi Jenderal’ di Mabes AD, Jakarta Pusat, Jum’at (10/6/2022).

Dengan itu, Dudung menyadari bahwa untuk mencapai kesuksesan dibutuhkan pengorbanan dan kegigihan. Karena untuk mencapainya tidak semudah membalikan tangan.

“Yang memberikan pengalaman bahwa rupanya untuk mencapai suatu keberhasilan itu tidak seperti membalikan telapak tangan. Artinya perlu perjuangan, perlu pengorbanan, perlu semangat yang gigih,” ucapnya.

Jenderal Dudung menjelaskan selain itu dalam bukunya dirinya menceritakan juga tentang pengalamannya ketika berkarier di dunia militer.

Menurut Dudung, menjadi pemimpin yang baik harus mengkedapan kepentingan umum, menjada anak buah dengan penuh kasih.

“Dibuku ini juga menceritakan bagaimana saya berkarier di militer, bagaimana pemimpin memperhatikan anak buahnya, mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Kemudian pengalaman – pengalaman saya di dalam mengambil suatu keputusan, seperti saya bertugas di Timor Timur, ketika saya Gubernur Akmil, dan lain sebagainya,” paparnya.

Mantan pangkostrad ini berharap buku biografi tentang perjalanan hidupnya dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi para generasi muda di masa mendatang. Ia berpesan bahwa setiap orang harus memiliki keberanian dan semangat untuk mewujudkan cita-citanya.

“Buku ini pada intinya saya berikan kepada generasi muda khususnya para perwira-perwira di Akademi Militer maupun lulusan yang lain, bahwa untuk mencapai karier yang tinggi sampai di puncaknya itu tidak serta merta instan, tetapi penuh perjuangan. Sering saya katakan kalau ingin hasil yang maksimal bagaimana dia berimajinasi harus punya inovasi, dia harus punya visi dan misi dia harus punya cita-cita dan harapan,” tandasnya.

Jenderal Dudung Abdurachman lahir di Bandung, Jawa Barat pada 16 November 1965. Ia menyelesaikan pendidikan dari SD sampai SMA di Kota Bandung (1972-1985). Setelah lulus SMA pada 1985, Dudung mendaftar Akabri Darat.

Ia lulusan Akademi Milier (Akmil) 1988 dari kecabangan infanteri dengan menyandang pangkat letnan dua (letda). Di tahun yang sama, dia juga menjalani pendidikan Sesarcabif. Dia juga pernah digembleng di Diklapa-I, Diklapa-II, Seskoad, dan Lemhannas.

Selain itu, Jenderal bDudung menyandang gelar akademik sarjana ekonomi (SE) dan magister manajemen (MM). Kepedihan hidup di masa kecil dan kepatuhan serta cintanya kepada kedua orang tua, justru menjadi pendorong semangatnya sampai ke titik tertinggi.

Berdasarkan perjalanan kariernya, Jenderal Dudung pernah menjabat sebagai Dandim 0406/Musi Rawas, Dandim 0418/Palembang, Aspers Kasdam VII/Wirabuana (2010-2011), Danrindam II/Sriwijaya (2011), dan Dandenma Mabes TNI. Tak hanya itu, dia juga pernah menjabat Wagub Akmil (2015-2016),

Staf Khusus Kasad (2016-2017), Waaster Kasad (2017-2018), Gubernur Akmil (2018-2020), dan Pangdam Jaya sejak 2020 hingga 2021. Pada 2021, Jenderal Dudung dipercaya memegang posisi Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) dan saat ini menjadi KSAD.

Tidak Kalah Menarik